Musik dan Kemampuan Kognitif: Musik bisa bikin kita pintar?

Musik dan kemampuan kognitif: Musik bisa bikin kita pintar?

Karya: Dhia Annisa (1606886766)

CA DHIA BENERAN

source: weheartit.com

Kita sering mendengar kalau musik dapat membuat kita lebih pintar. Orangtua yang mendaftarkan anaknya les musik semenjak kecil dan ibu hamil yang memperdengarkan musik klasik kepada janin di kandungannya merupakan contoh nyata kalau masyarakat benar benar percaya akan efek musik terhadap kemampuan kognitif. Tapi, sebenarnya betul nggak sih musik benar-benar berpengaruh terhadap kemampuan kognitif kita?

Penelitian mengenai efek musik terhadap kemampuan kognitif sudah banyak banget diuji, dan salah satu yang paling terkenal terdapat artikel yang disusun oleh Rauscher, Shaw, dan Ky pada 1993 yang menemukan adanya “Mozart Effect”, di mana partisipan yang mendengarkan musik gubahan Mozart memiliki kemampuan spasial yang superior di banding partisipan yang tidak mendengarkan apa-apa. Meskipun efek ini hanya terjadi selama 10-15 menit dan partisipannya adalah mahasiswa, dampaknya pada masyarakat nggak bisa diremehkan. Industri musik untuk meningkatkan kecerdasan bayi tumbuh dan di Georgia, CD musik Mozart dibagikan secara gratis kepada setiap bayi yang baru lahir. Wow banget kan?

Jadi, musik beneran bikin kita pintar? Schellenberg (2005) sudah membuktikan nih kalau ada asosiasi positif antara pelajaran musik dengan kemampuan membaca, matematika, verbal, dan spasial. Anak-anak yang mengikuti pelajaran musik juga dilaporkan memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tidak. Kok bisa begitu? Schellenberg menduga hal ini bisa terjadi karena ada banyak kemampuan yang dilatih pada kelas musik, seperti konsentrasi, mengingat, motorik, kemampuan mengingat, dsb. Selain itu, musik merupakan domain yang meningkatkan pemikiran abstrak dan mempelajari musik mirip dengan mempelajari bahasa kedua.

Eits, bukan itu aja, masih ada yang lebih canggih, nih! Strait dan Kraus (2011) menemukan kalau musik adalah alat yang kuat untuk membentuk struktur dan fungsi neuron, terutama yang berhubungan dengan pemrosesan auditoris. Efeknya tidak hanya terbatas pada jaringan musik otak, tapi berlaku juga pada pemrosesan auditoris general, seperti kemampuan berbicara. Hal ini bisa terjadi karena adanya kesamaan mekanisme yang mendasari kemampuan musik dan bahasa seperti mendengar dan membaca dalam keadaan berisik. Yang lebih keren lagi, musik sudah mulai digunakan untuk membantu anak-anak yang memiliki gangguan dalam membaca seperti dyslexia lho! Pelatihan musik meningkatkan kesadaran phonemic (Overy, 2003 dalam Forgeard, Schlaug, Norton, Rosam, Iyengar, &Winner, 2008) dan kesadaran phonemic dapat memprediksi kemampuan membaca musik.

Satu hal yang perlu kita perhatikan, musik bukanlah solusi cepat dari masalah kecerdasan. Iya sih, musik memiliki efek positif untuk jangka panjang, tapi latihan yang lama dan intens terkadang dianggap kurang efektif dan menghabiskan waktu. Masih banyak kok, kegiatan lain yang bisa meningkatkan kemampuan kognitif kita! Jelajahi sekitar kita dan kita akan menemukan kalau sebenarnya kita bisa belajar dari hal sekecil apapun, yeay!

 

Daftar Pustaka

Forgeard, M., Schlaug, G., Norton, A., Rosam, C., Iyengar, U., & Winner, E. (2008), ‘The Relation Between Music and Phonological Processing In Normal-Reading Children and Children With Dyslexia’, Music Perception: An Interdisciplinary Journal, Vol. 25, No. 4 hal. 383-390

Schellenberg, E. G. (2005), ‘Music and Cognitive Abilities’, Current Directions in Psychological Science, Vol. 14, No. 6 hal. 317-320

Strait, D. & Kraus, N. (2011), ‘Playing Music for a Smarter Ear: Cognitive, Perceptual and Neurobiological Evidence’, Music Perception: An Interdisciplinary Journal, Vol. 29, No. 2, Music Training and Nonmusical Abilities hal. 133-146

Tsang, C. D. & Conrad, N. J. (2011), ‘Music Training and Reading Readiness’, Music Perception: An Interdisciplinary Journal, Vol. 29, No. 2, Music Training and Nonmusical Abilities hal. 157-163